Logo SantriDigital

يا ابن آدم خلقتك للعبادة فلا تلعب، وقسمت لك رزقك فلا تتعب، فإن رضيت بما قسمته لك أرحت قلبك وبدنك، وكنت عندي محموداً، وإن لم ترض بما قسمته لك فوعزتي وجلالي لأسلطن عليك الدنيا تركض فيها ركض الوحوش في البرية ثم لا يكون لك منها إلا ما قسمته لك، وكنت عندي مذمو

Khutbah Jumat
A
Ahmad khotib
4 Mei 2026 5 menit baca 2 views

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ع...

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Para hadirin yang dirahmati Allah, marilah kita panjatkan puji syukur yang tak terhingga ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sungguh, hati ini bergetar, jiwa ini merinding, saat merenungkan firman Allah yang terkandung dalam hadis qudsi yang mulia ini: "Wahai anak Adam, Aku menciptakanmu untuk beribadah, maka janganlah bermain-main. Aku telah membagi rezekimu, maka janganlah bersusah payah. Jika engkau ridha terhadap apa yang telah Aku bagi, maka hatimu dan badanmu akan tenang, dan engkau akan di sisi-Ku terpuji. Namun jika engkau tidak ridha terhadap apa yang Aku bagi, demi keagungan dan kebesaran-Ku, Aku akan menghamparkan dunia ini kepadamu, engkau akan berlari di dalamnya bagai binatang liar di padang pasir, namun engkau tidak akan mendapatkan dari dunia itu kecuali apa yang telah Aku bagi untukmu, dan engkau akan di sisi-Ku tercela." Dilanjutkan dengan, "Wahai anak Adam, Aku kasih kepadamu, maka demi hak-Ku atasmu, jadilah engkau kasih kepada-Ku." Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Dengarkanlah panggilan ini, wahai saudara-saudaraku seiman! Suara yang bergema dari Arsy-Nya, suara yang memanggil kita kembali ke pangkuan cinta-Nya. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an: "وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ" (Adz-Dzariyat: 56) "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." Inilah inti dari penciptaan kita, tujuan keberadaan kita di dunia ini. Bukan untuk mengejar gemerlap dunia yang fana, bukan untuk bersenang-senang dalam kelalaian, tapi untuk *menyembah* Sang Pencipta, untuk *menghamba* kepada Ar-Rahman Ar-Rahim. Apa yang kita kejar di dunia ini, yang membuat hati kita gelisah dan badan kita letih, sesungguhnya hanyalah titipan, dan batasnya telah ditentukan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Lihatlah hati kita yang seringkali bergolak karena urusan dunia. Harta yang sedikit membuat murung, jabatan yang belum diraih membuat resah, pujian manusia yang hilang membuat gusar. Kita lari ke sana kemari, menumpuk dunia ini, seolah-olah dunia ini adalah satu-satunya tujuan, satu-satunya kebahagiaan. Padahal, Allah yang Maha Tahu, telah menjamin rezeki kita. "وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا" (Hud: 6) "Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang menanggung rezekinya." Bagaimana mungkin kita khawatir akan rezeki, sementara Allah sendiri yang menjaminnya? Jika hati kita dipenuhi dengan *ridha* atas apa yang Allah berikan, hati ini akan tenteram, badan ini akan ringan, dan amal ibadah kita akan diterima. Justru ketika kita tidak ridha, ketika kita terus berontak karena ketidakpuasan, Allah bersumpah akan menghamparkan dunia untuk kita kejar, namun hasilnya tetaplah apa yang telah Dia tetapkan, namun hati kita terkoyak, dan kita pun tercela di hadapan-Nya. Sungguh kerugian yang amat besar! Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Ada kalanya kita merasa jauh dari Allah, hati terasa keras, ibadah terasa berat. Mengapa demikian? Karena kita lupa bahwa Allah *bersumpah* demi kehormatan-Nya, demi kebesaran-Nya, untuk menghukum kita jika kita menolak apa yang telah Dia bagi, jika kita tidak ridha atas ketetapan-Nya. Sungguh mengerikan jika kita menjadi salah satu dari mereka yang "berlari di dalam dunia bagai binatang liar", tanpa arah, tanpa tujuan, hanya digerakkan oleh nafsu dan ketidakpuasan. Neraka Jahanam menanti mereka yang terus-menerus dalam kesombongan dan ketidakridhaan. Na'udzubillahi min dzalik. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Namun, lihatlah sisi lain dari firman suci itu. Di ujung peringatan yang begitu keras, terselip panggilan cinta yang begitu dalam. "Wahai anak Adam, Aku kasih kepadamu..." Siapa di dunia ini yang tidak ingin dicintai? Siapa yang tidak merindukan kasih sayang? Allah, Sang Maha Pengasih, Ar-Rahman, telah menyatakan cinta-Nya kepada kita. Cinta yang tak bersyarat, cinta yang tak terhingga. Tapi, cinta ini datang dengan sebuah titipan: "Maka demi hak-Ku atasmu, jadilah engkau kasih kepada-Ku." Inilah inti dari segalanya, saudara-saudaraku! Kehidupan kita adalah sebuah perjalanan cinta. Perjalanan untuk membalas cinta Allah. Cinta Allah diwujudkan dalam ketaatan total kita kepada-Nya, dalam melupakan dunia demi meraih ridha-Nya, dalam menjadikan ibadah sebagai satu-satunya tujuan. "إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ" (Al-Fatihah: 5). Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Mari kita renungkan, hati mana yang tidak terenyuh mendengar firman ini? Allahdeclare cinta, tapi kita masih sibuk dengan dunia. Allah memanggil kita untuk beribadah, tapi kita lebih suka bermain-main dengan kelalaian. Kita mengharap surga, tapi amalan kita lebih mirip penghuni neraka. Hati ini perlu dibakar semangatnya, jiwa ini perlu digugah dari tidurnya. Lihatlah para nabi, para sahabat, para wali Allah. Mereka rela meninggalkan segala kenikmatan dunia demi meraih cinta-Nya. Tangis mereka karena takut murka-Nya, kerinduan mereka untuk bertemu dengan-Nya. Air mata adalah tinta para pecinta Allah, dan pengorbanan adalah bukti cinta mereka. Apakah kita tidak ingin menjadi bagian dari barisan cinta ini? Ingatlah, setiap detik yang kita lewati adalah kesempatan untuk membalas cinta-Nya. Kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan dalam rangka taat kepada-Nya adalah ungkapan cinta kita. Zikir kita adalah bisikan rindu, doa kita adalah jeritan hati yang memohon kedekatan. Jangan biarkan bibir kita berkata "Aku cinta Allah" sementara hati kita bergulat dengan kesibukan duniawi. Tunjukkan cinta itu melalui tindakan, melalui pengorbanan, melalui ketundukan. Bertaubatlah sekarang! Menangislah dalam kesendirian malam, mintalah ampun atas kelalaian kita. Kembalikanlah cinta kita pada sumbernya, pada Allah Azza wa Jalla. Jika kita benar-benar mencintai-Nya, niscaya kita akan merasa ringan untuk meninggalkan apa yang Dia benci, dan kita akan bergegas melakukan apa yang Dia cintai. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →